Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qolbu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Qolbu. Tampilkan semua postingan

16 Januari 2009

SEANDAINYA AL-QURAN BISA BERBICARA



Kitab Suci Al Qur’an adalah namaku
Aku buku kitab yang dicetak dengan sangat cantik
untuk tahu tentang aku ada beberapa petunjuk
Aku diberi sampul mewah nan indah.Aku pasti ada di setiap rumah orang muslimtapi, didalam hati setiap muslim aku jarang ditemui.
Aku diletakkan di atas rak yang tinggi.Dibiarkan disana, aku tertinggal dan dilupakan.

Terkadang aku diletakkan ditempat-tempat kotor,
”Katanya untuk mengusir hantu dan jin.”Dan disana juga aku dibiarkan, tertinggal dan dilupakan.

Dengan penuh hormat aku banyak dicium setiap kali selesai dibaca.
Tapi,
Pelajaran dan petunjuk utama yang ada padaku selalu terlupakan
Mereka mengabaikan pesan yang ada padaku.
Ada kalanya aku digunakan untuk bersumpah palsu,
Kegunaanku yang sebenarnya sangat jarang diperhatikan

Sungguh betapa ajaibnya aku bisa mengubah dunia
Yang semestinya mereka lakukan adalah memahami perkataanku.
Jadi seharusnya bacalah aku, pelajarilah aku,
Perhatikan apa yang harus aku katakan untukmu.

Aku punya hukum
Aku punya kebijaksanaan
Aku punya sesuatu yang sangat berharga
Dan banyak yang aku punya yang tak bisa kau hitung.
Akulah penuntunmu
Aku diturunkan dari Allah Sang Pencipta Alam Semesta
Aku diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan dipertahankannya dengan air mata dan darah.

Maka bacalah aku, pelajarilah aku, dan sampaikan isi yang ada padaku.
Karena, Al Qur’an Al Karim adalah namaku.

19 Desember 2008

Suasa terakhir jamaah haji di Makkah


Hari-hari terakhir jamaah haji di Makkah betul-betul dimanfaatkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Meski sebagian jamaah sudah dipulangkan ke tanah air, di Masjidil Haram siang maupun malam selalu ramai oleh jamaah


Sepasang jamaah haji Indonesia melahap makananya untuk menganjal perut sampai waktu salat tiba. Buat pengalaman karena jauhnya pemondokan haji Indonesia dari Masjidil Haram membuat para jamaah memilih membeli makanan untuk mengganjal perut. Hal ini dilakukan untuk mengefektifkan waktu agar tetap bisa mengukuti salat wajib di Masjidil Haram


Antre di warung makan cepat saji di sekitar Masjidil Haram seperti KFC, Matam Al Heraa dan lainnya

01 Desember 2008

Rezeki Kagetan


KENAPA manusia sulit berbagi? Mengapa manusia sulit bersedekah? Salah satu jawabannya, mungkin karena dia berpikir dengan matematika pengurangan. Maksudnya, kalau dia berbagi, maka miliknya bakal berkurang. Atau, barangkali dia selalu melihat kekurangannya. Dalam pengertian dia --diperkuat omongan orang lain-- diri sendiri saja masih kekurangan, bagaimana mau dibagikan pada orang lain?
Maka, banyak orang berpikir (menunggu harta cukup dulu) baru kemudian berjanji untuk berbagi. Faktanya malah tidak pernah kecukupan. Penyebabnya, karena tidak kunjung berbagi. Padahal, kata Allah, kalau mau dicukupkan rezeki, harus bersedia untuk berbagi. Dan, kenyataannya pula, banyak orang yang kehidupannya telah membaik, kekikirannya tetap saja melekat. Akhirnya kehidupan dia berubah lagi menjadi selalu diliputi kekurangan.
Pada sebagian dari Anda yang "merasa" sudah cukup berderma, cobalah perhatikan jumlahnya. Jangan-jangan apa yang Anda dermakan ketika jaya masih sama rupiahnya kala ekonomi belum membaik. Misal, dulu ketika memulai usaha punya satu anak asuh. Kemudian setelah jaya, jumlah anak asuh itu tidak bertambah. Ini pun akan berpengaruh pada kualitas keberkahan.
Tersebutlah seorang sopir yang menemui seorang ustad. Dia mengadukan tentang pendapatannya yang tidak pernah kunjung cukup. Dia kini memiliki lima anak, tapi penghasilannya dari dulu (sejak belum punya anak) hingga sekarang tidak beranjak. Kalaupun ada pertumbuhan, jumlahnya tidak seberapa.
"Gaji Bapak sekarang berapa?" tanya Ustad. "Rp 800.000," jawab dia datar. "Rp 800.000 itu sudah besar, lho, Pak." Ustad mengingatkan dengan ucapan, "Sudah bersyukur belum?" "Sudah, Ustad. Ini juga kalau nggak bersyukur, nggak tahu, dah."
Sang sopir kemudian menceritakan bahwa selama ini dia selalu melihat "ke bawah". Dia bersyukur masih bisa bekerja, sedangkan banyak rekannya yang tidak memiliki pekerjaan lagi. Dia bekerja di ruangan ber-AC, setidaknya selama menyetiri mobil majikan. Sementara kawan-kawan lain tidak sedikit yang menjadi kuli bangunan. Kulit mereka hitam legam terpanggang panas matahari.
"Hati saya jadi adem, Ustad. Setidaknya saya cukup jauh dari mengeluh. Hanya saya bingung juga. Sebab akhirnya, biar bagaimana, gaji saya tetap tidak mencukupi. Padahal, anak bertambah besar, Ustad."
Menghadapi keluhan tersebut, Ustad pun menjelaskan bahwa jika bentuk rasa syukur itu tidak diwujudkan dalam sebuah aksi berbagi, maka, maaf, "Belum menghasilkan perubahan." Apa yang sudah dilakukan oleh si sopir dengan menata hati dan bisa mensyukuri hidup sudah tepat. Hasilnya adalah sebuah kedamaian hati. Ketenteraman. "Tapi, kalau mau lebih dahsyat, cobalah Bapak berbagi. Sebagai wujud syukur yang lain."
Wajah sopir itu berubah sedikit. Ustad itu memahami bahwa di balik benak orang yang ada di hadapannya --juga dimiliki orang banyak-- tidak sependapat dengan nasihat yang barusan disampaikan. Bagaimana mungkin dibagikan jika yang ada saja untuk kebutuhan sendiri masih kurang?
"Pak, Bapak kan belum jajal ikhtiar mencukupkan kebutuhan dengan jalan bersedekah? Coba dah di-jajal. Keluarkanlah sedekah. Insya Allah, Allah akan mencukupkan kebutuhan Bapak," ujar Ustad.
Urusan bantu-membantu orang, yang direfleksikan dengan bersedekah, menjadi sebuah keharusan. Artinya, siapa pun yang membutuhkan bantuan Allah, pertolongan Allah, dan kemudahan dari Allah, maka berbagi menjadi sebuah keharusan baginya. "Allah akan membantu hamba-Nya jika hamba-Nya ini mau membantu yang lain. Wallaahu fii 'awnil 'abdi, maa kaanal 'abdu fii 'awni akhiihi."
Sepulang dari kunjungan tersebut, sopir itu pun menyedekahkan uangnya seratus ribu rupiah. Dia mengurangi penghasilannya dengan berderma. Matematika yang terjadi, duit dia semakin kurang. Namun kenyataannya tidak demikian. Pada pekan depannya, sopir ini diajak majikannya ke luar kota untuk sebuah urusan bisnis. Upaya ini membuahkan hasil. Si sopir kebagian rezeki kagetan dari majikan sebesar Rp 1 juta. Kisah ini mirip dengan cerita showroom pinggir .
Akhirnya, sopir ini memetik pelajaran dari bersedekah, sebagaimana kita juga --mudah-mudahan-- bisa menimba kisah tersebut. Bahwa kalau rezeki mau dicukupkan oleh Allah, kita harus mau berbagi. Dengan jalan berbagi, dengan cara bersedekah, inilah yang bakal membuat rezeki kita dicukupkan oleh Allah.
Sementara itu, pada saat yang sama, sebagian dari kita malah menempuh langkah tidak terpuji yang justru menambah hartanya makin berkurang. Misalnya dengan cara korupsi, mencuri, menipu, mengadali, dan mencari rezeki haram yang tidak diridoi Allah.
Tampaknya, sekali lagi, demi melihat kekurangan kita, kesulitan kita, langkah berbagi atau bersedekah menjadi layak untuk lebih diperhatikan. Mudah-mudahan Allah memberi kemudahan bagi setiap kesulitan kita, dan menganugerahkan kecukupan bagi beragam kekurangan yang kita rasakan. (ym)